April 22, 2020

Saya Sudah Berhenti Menyemprotkan Cairan Disinfectan Di Tas, Hape Dan Ketiak Saya !

Kalaupun makhluk itu bisa mengakibatkan ancaman penyakit dan ancaman kematian lebih besar, maka harusnya kita akan lebih panik dengan penyebab yang lebih banyak menimbukan kematian

Saya Sudah Berhenti Menyemprotkan Cairan Disinfectan Di Tas, Hape Dan Ketiak Saya !. Kemarin saya meng-compare jumlah masyarakat yang terjangkit TBC di Indonesia dengan jumlah orang yang terpapar penyakit korona. Dan saya merasa ada keanehan pada diri saya saat merespon dua penyakit tersebut.

Padahal berdasarkan data, jumlah orang-orang di sekitar kita yang terjangkit TBC itu ada 842 ribu orang dengan tingkat kematian per tahun sebanyak 110 ribu orang, atau 300 orang per hari. Artinya penyakit TBC secara faktawi ganas betul.

Namun demikian, saya menemukan bahwa tatkala saya merespon fakta untuk dua penyakit itu, ternyata respon saya jauh berbeda. Dengan korona ini saya begitu paniknya. Sementara dengan TBC yang sudah-nyata adalah juga penyakit menular dan nyata-nyata telah menginfeksi 800 ribu jiwa dan membunuh 110 ribu jiwa orang Indonesia per tahun, saya biasa-biasa saja. Kok bisa ya?

Ada seorang dokter di Kalbar yang mengkritik cara saya berpikir. Tak apa-apa. Saya suka. Jangan khawatir saya akan marah. Saya bukan Luhut. ๐Ÿ™‚

Tapi begini, saya memang orang awam. Saya memang tak tahu secara persis apa itu bakteri apa itu virus.Karena saya memang tak pernah melihatnya.

Yang saya tahu adalah, ada sesuatu obyek yang bukan manusia yang telah menyebabkan sakit dan kematian. Nah, bagi saya tak persoalan apakah itu virus atau ayam.

Kalaupun makhluk itu bisa mengakibatkan ancaman penyakit dan ancaman kematian lebih besar, maka harusnya kita akan lebih panik dengan penyebab yang lebih banyak menimbukan kematian. Walaupun penyebabnya adalah seoekor anak ayam.

Tapi nyatanya tidak. Saya atau kita ternyata lebih concern dengan bentuk dan jenis makhluk ketimbang nyawa manusia. Anehkan?

Tak apa. Mungkin saya adalah satu-satunya orang yang aneh, bodoh, sembrono dan idiot di dunia ini. Hahaa.

**

Lalu ada yang menganggap bahwa keanehan yang saya ungkapkan ini bermaksud mengajak masyarakat untuk menyepelekan ancaman pandemi korona ini. Haha.

Jika ada yang menganggap seperti itu, kalian salah. Saya dan seluruh keluarga hingga saat ini masih tetap stay at home, masih cuci tangan lebih dari 10 kali sehari, masih pake masker kemana-mana, masih menyemprotkan sanitizer di tas, laptop, hape, bahkan sampai ketiak ๐Ÿ™‚ . Luar biasakan!

Bahwa sebelumnya saya menyarankan Pemda melakukan evaluasi terhadap hasil kebijakan KLB di Kalbar, ya.. itu sekedar saran. Mau dipake silahkan, tadak pun tak pape. ๐Ÿ™‚

Yang jelas jangan suruh saya yang melakukan evaluasi. Itukan kebijakan pemerintah. Ya pemerintah lah yang harus melakukan evaluasi.

Lagian saya tak berkedayaan untuk melakukan evaluasi. Sebagai seorang warga negara yang rapuh, saya tak punya duit dan sumber daya untuk melakukan riset yang mendalam untuk dijadikan bahan mengevaluasi kebijakan.

Ya pemerintah daerah lah yang harus melakukannya. Kitakan sudah urunan tiap tahun bayar pajak. Kalau tak mau melakukan riset ya tak jadi soal. Apelah saye ni. Hanye parcak burok naang beh. Hahaaa. ๐Ÿ™‚

**

Lalu ada juga yang mengatakan bahwa saya sembrono membandingkan TBC yang disebabkan bakteri dengan corona yang disebabkan oleh virus. Keduanya menurutnya berbeda karakter. Mereka mengecam saya karena saya bukan ahlinya.

Lho yang ngaku ahli ya siapa. Makanya liat dulu tulisannya, saya menulis sebagai seorang ahli atau sebagai seorang netsitizen. Kalau saya sebagai seorang virologi atau seorang dokter, silahkan dikecam. Atau boleh juga dipukul kepala saya pake penggaris. Penggaris plastik tapi ya. Hahaa.

dan saudara-saudara sebangsa dan setanah airr…Sejak kapan ada aturan seorang penulis seperti wartawan yang hanya berpendidikan jurnalistik, dilarang menulis tentang kriminalitas hanya karena sebab ia bukan seorang polisi? Cara berpikir seperti itu aneh, sodara-sodara. ๐Ÿ™‚

Tapi tak apa. Jangan kita perpanjang lagi.

***

Nah, kali ini saya ingin menyampaikan penyakit yang sama-sama disebabkan oleh virus. Sama-sama menular juga, walau dengan cara yang berbeda.

Dan keduanya sama seperti korona juga. Sama-sama belum ada obatnya. Kedua penyakit itu adalah Hepatitis dan HIV/ AIDS.

Khusus untuk Hepatitis, sudah ada vaksinnya. Walaupun sudah ada vaksinnya, tapi masih aja berjuta orang yang terinfeksi penyakit ini. Ini juga aneh. Tapi tak akan kita bahas.

Nah data tentang orang yang terpapar virus hepatitis dan hiv di Indonesia ini, saya ambil dari sumber terpercaya. Jadi sata ini bukan dari saya. Saya itu bukan ahlinya. Saya tau diri. Hahaa.

Begini datanya.

  1. Tentang Hepatitis. Menurut data Kemenkes RI, pada tahun 2017, populasi masyarakat Indonesia yang terkena Hepatitis B adalah 7.1%. Jika penduduk Indonesia saat ini 267 juta jiwa, maka penderita Hepatitis itu adalah sekitar 18 juta jiwa. Bahkan pada tahun 2014 berdasarkan Riset Kesehatan dasar Kementerian RI, jumlah penduduk indonesia yang terinfeksi hepatitis mencapai 28 juta jiwa. Dengan demikian, jumlah penduduk Indonesia yang terinfeksi virus ini jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan jumlah penderita covid-19 di seluruh dunia yang saat ini mencapai 2,24 juta jiwa. 28 juta jiwa itu bahkan lebih besar dari prediksi jumlah penduduk dunia yang bakalan terinfeksi yaitu sekitar 10 juta orang. Dan 28 juta jiwa itu hanya di Indonesia saja. Di dunia jauh lebih besar lagi. Jumlahnya diprediksi diangka 325 ribu orang yang terinfeksi!
  2. Tentang HIV/ AIDS. Pada tahun 2017, penderita HIV/AIDS di Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas sudah mencapai angka 628.492 orang, sementara angka kematian dari penderita penyakit ini sebanyak 40.468 jiwa. Jumlah orang Indonesia yang terinfeksi penyakit ini jauh lebih besar dibandingkan jumlah penduduk Wuhan yang terinfeksi covid 19, yaitu 80 ribu orang. Bahkan lebih besar jumlahnya jika ditambah dengan pasien covid di Italy (140rb), Jerman (113 rb), dan Spanyol (148rb).

Bagaimana?
Banyakan mana orang yang terpapar dan yang tewas antara korona dengan hepatitis dan hiv? Bukankah lebih banyak Hepatitis dan HIV?

Mungkin ada yang akan bilang begini, โ€œtapikan penyebaran hepatitis tak secepat corona?

Siapa bilang. Lihat saja angkanya. Untuk Hepatitis, ada 28 juta yang sudah terpapar virus ini. Berarti proses penularannya juga sangat cepat.

Atau mungkin ada yang bilang begini, โ€œtapikan Hepatitis tak seganas koronaโ€.

Pendapat ini juga debatable, karena dari 28 juta pengidap hepatitis, 1,4 juta akan menderita penyakit kanker hati yang akan berujung kematian.

Itu baru hepatitis. Belum tentang tingkat kematian oleh virus HIV/ AIDS.

**

Trus gimana?

Ya terserah. Kalau saya sih begini. Saya akan tetap ikut anjuran pemerintah selama belum dicabut. Yaitu akan tetap sering-sering cuci tangan. Akan berusaha pake masker. Akan berusaha stay at home sampai saya tak bisa lagi memenuhi kebutuhan hidup saya ๐Ÿ™‚ .

Pokoknya, saya akan tetap menjadi warga negara yang baik. Dont worry. ๐Ÿ™‚

Tapi saya tak mau lagi menyemprot tas, hape dan ketiak saya pake cairan disinfectan! Saya tak mau panik lagi!

Lha dengan TBC, hepatitis dan HIV yang jauh lebih berbahaya saja, saya bisa biasa-biasa aja kok. ๐Ÿ™‚

***
Pontianak, 19.04.2020
Beni Sulastiyo / Penulis/sastrawan/ poltisi kalimantan barat

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments